Senin, 22 Februari 2016

Allah yang akan memampukan kita

Mengapa hati banyak orang selalu ragu untuk menuju Baitullah? kita merasa belum mampu ke Baitullah maka hati kita terbelenggu dengan ketidakmampuan dan menunda-nunda terus. Niat sih ada.... tapiiii...... Mengapa hati kita selalu terbelenggu dunia ? Ingat pesan Rasulullah SAW : "Allah akan mengganti seluruh biaya-biaya perjalanan haji dan umrah" [HR. Imam Baihaqqi] “Orang yang melaksanakan haji dan orang yang melaksanakan umrah adalah tetamu Allah. Allah SWT akan memberi apa yang mereka minta; akan mengabulkan doa yang mereka panjatkan; akan mengganti biaya yang telah mereka keluarkan; dan akan melipat-gandakan setiap satu Dirham menjadi satu juta Dirham.” [HR. Al-Fakihani dalam Akhbaru Makkah].

Allah SWT memampukan hamba-Nya yang terpanggil bukan memanggil hamba-Nya yang mampu. Suatu ketika saya ditanya oleh teman kantor saat itu.

Pertanyaannya sangat memberikan teguran hati dan bukan ketukan hati. Mengapa? Saya telah lama bekerja dan tentunya penghasilan sudah cukup untuk melakukannya. Namun niat hati selalu tetapi action di luar hati selalu berbeda.

Apa pertanyaannya? .... Kapan Bapak umrah ? Wah sungguh kaget.... dalam hati pasti menjawab niat sih ada tapi.... Nah inilah yang menghambat.

Tapi tapi dan tapi terus..... Saya ingat orang tua atau bahkan teman teman bahkan saya sendiri. Ingin memiliki kendaraan atau rumah. Niat sih ada dan sudah niat pengin punya kendaraan atau rumah. Akhirnya dengan cara apapun harus punya uang untuk bayar DP atau uang muka biar dapat kendaraan atau rumah. Sisanya diangsur. Kalau kebutuhan fisik pasti segera harus dipenuhi.

Nah kalau mau umrah berkunjung ke rumah Allah (Baitullah) kok susah banget yah.... Apa karena bukan fisik yang diperoleh dan nantilah bisa diatur kan nggak kemana-mana atau kan masih banyak umurnya....

Saya sampai beristighfar dan mengiyakan kenapa yah malah kebutuhan fisik selalu segera dipenuhi tetapi untuk kebutuhan rohani tidak disegerakan. Ada yang bilang nggak perlu dulu sebab bila sholat berkali kali pada ibadah tertentu sama dengan ke Baitullah.... Ada yang bilang ...ah nanti nabung dulu dengan rezeki yang ada dikumpulin baru setelah penuh dananya baru daftar dan berangkat.....

Malahan ada beberapa teman selalu berdalil dengan banyak syarat sehingga akhirnya nggak berangkat-berangkat. Padahal sama dengan sedekah. Bahwa bila bersedekah maka akan diganti berlipat-lipat. Demikian pula dengan umrah akan diganti dengan berlipat-lipat.... Gunakanlah ilmu yang diberikan Allah dan Rasulullah SAW. Coba renungkan Hadits Rasulullah SAW di atas.

Nah kalau mau ke Baitullah mau umrah apalagi haji, kalau nggak bayar untuk biaya perjalanannya karena kita tidak berada langsung di Saudi Arabia, terus kapan berangkatnya ? Minimal kita sudah bayar uang muka dengan biro perjalanan itu sudah merupakan niat, lebih dari niat dan malahan sudah action tinggal dilunasi kapan mau berangkat.

Sama seperti mau membangun rumah sudah bayar DP untuk beli bahan bangunan otomatis mau tidak mau harus tetapi dilanjutkan pembangunan rumahnya dan otomatis bila sudah bayar uang muka untuk berangkat ke Baitullah, maka mau tidak mau harus segera mengangsur dan melunasinya. Betul ?

***

Haji adalah perjalanan ibadah. Kewajiban ibadah ini disesuaikan dengan kemampuan seseorang. Orang yang mampu secara biaya, kesehatan, keluangan, dan keamanan, wajib melaksanakannya.

Seperti firman Allah swt.: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Ali Imran: 97].

Oleh karena itu, orang yang melaksanakan haji disyaratkan memnyiapkan bekal yang cukup, selain biaya yang sudah ditentukan dengan ONH. Mempunyai bekal yang cukup juga bertujuan agar sempurna seorang haji dalam menghambakan diri kepada Allah swt. Karena kalau tidak memiliki bekal, dia akan meminta-minta kepada orang lain. Hal itu akan berakibat menundukkan dan merendahkan diri kepada sesama makhluk. Bukan kepada Allah swt.

Bagi sejumlah orang, jumlah ONH terasa sangat besar. Apalagi di tengah iklim ekonomi yang kian sulit. Sehingga mereka kadang terpikir, jika dana sebesar itu digunakan untuk berinvestasi, tentu akan sangat menguntungkan. Bukan dibuang-buang untuk perjalanan haji.

***

Namun berapapun biaya Haji dan Umroh Insya Allah ada solusinya. Ingat Allah akan memampukan orang yang punya NIAT KUAT untuk ke tanah suci. PASTI ada jalan jika didahului dengan NIAT yang KUAT.

Renungkan bahwa Allah yang akan memampukan kita, tugas kita hanya memantapkan niat.

Allah MEMAMPUKAN orang-orang yang TERPANGGIL

Allah tidak MEMANGGIL orang-orang yang MAMPU tapi Allah MEMAMPUKAN orang-orang yang TERPANGGIL untuk berkunjung ke Baitullah (ka’bah).

Menurut makna bahasa, Haji berarti menyengaja atau mengunjungi, sedangkan dalam terminologi islam, Haji itu berarti berkunjung ke Baitullah untuk melaksanakan beberapa amalan-amalan seperti wukuf, tawaf, sa’i serta amalan lainnya pada masa tertentu untuk mendapatkan pahala dan ampunan dari Allah SWT. Keseluruhan rangkaian pelaksanaan ibadah haji itu dilakukan di Arab Saudi, sehingga siapapun yang berangkat kesana tentulah orang yang mampu dan memiliki bekal materi yang cukup.

Bila anda selesai membaca catatan saya ini kemudian anda langsung berniat dan bersungguh-sungguh akan melaksanakan Haji atau Umroh, ada 2 kemungkinan saja yang bakal terjadi.

Anda mempunyai kesempatan bisa melaksanakan keinginan Haji & Umroh.

Anda tidak mempunyai kesempatan untuk melaksanakan keinginan Haji & Umroh.

Untuk memahami bahasa “punya kesempatan” atau “tidak punya kesempatan” dalam hal Haji & Umroh kita cukup mengingat contoh nyata “Tukang Becak Naik Haji” , "Penjual Gorengan Naik Haji setelah Menabung selama 20 tahun", atau sinetron “Tukang Bubur Naik Haji” kemudian... tengok teman atau tetangga kita yang mampu beli mobil Rp.100jt – Rp.500jt hingga 1 milyar tapi belum Haji juga walau ongkos haji hanya berkisar Rp.38 jutaan. Begitulah rahasia Haji....

- Banyak orang yang mampu tetapi tidak sempat.
- Ada yang sempat tetapi ia tidak mampu.
- Ada lagi yang sempat dan mampu tetapi tidak sehat.
- Ada juga yang mampu, sempat dan sehat tetapi harus menunggu 15 tahun lagi.
- Ada yang mampu, sempat dan sehat tetapi hatinya tidak tergerak untuk berhaji.

(maaf tidak ada niat menyindir si miskin atau si kaya, ini dalam konteks pemahaman “kesempatan” itu tadi).

HAJI ITU PANGGILAN, DIPANGGIL, ATAU TERPANGGIL?

Untuk memudahkan memahami kata di atas, kita sandingkan saja padanan perubahan kata “panggil” dengan “daftar” : “panggilan, dipanggil, terpanggil” dengan “daftaran, didaftar, terdaftar”.

Untuk jadi “Terdaftar”, kita harus daftar terlebih dahulu seteleh kita tahu adanya pengumuman pendaftaran dan kita juga harus pastikan bahwa kita sudah ada didaftar. Begitu juga sebelum kita jadi “Terpanggil” tentu kita harus merespon panggilan agar kita bisa dipanggil dan masuk daftar Terpanggil.

Allah sudah menyebarluaskan panggilan atau undangan ini kepada seluruh umat manusia. Undangan ini sudah dibuat oleh Allah dan disebarluaskan untuk hambaNya sejak ribuan tahun lalu oleh Nabi Ibrahim AS dan dilanjutkan oleh Rasulullah SAW, undangan ini akan tetap ada sampai akhir zaman.

Panggilan itu tidak ditujukan khusus layaknya undangan resepsi, undangan dinner, cocktail party atau jenis undangan lain, dimana kita mempunyai pilihan mau atau tidak mau, bisa atau tidak bisa, kadang-kadang malah ada perasaan ‘tidak enak’ pada si pengundang bila tidak menghadiri.

Panggilan yang satu ini adalah sebuah “inisiatif” yang didasari keimanan dan taqwa, yang ‘mengharuskan’ diri untuk mau hadir, ‘harus’ bisa hadir, ‘harus’ merasa tidak enak jika tidak hadir. Memang benar-benar tidak ada pilihan lagi bagi yang berkesempatan. Harus hadir. Urusan undangan yang satu ini kaitan tanggung jawabnya lebih berat daripada sekedar ‘tidak enak’ pada si Pengundang. Tidak semudah itu pula lantas kita ‘bisa’ menghubungi si Pengundang dan dengan enteng memohon maaf atas ketidak hadiran kita karena bermacam alasan-alasan tertentu.

Sebagaimana sama-sama diketahui bersama bahwa ibadah haji pada hakikatnya adalah merupakan napak tilas atas perjuangan Nabi Ibrahim as dalam mewujudkan ketaqwaan terhadap Allah SWT. Nabi Ibrahim as dikenal sebagai Bapak Monoteisme (Tauhid), sebab beliaulah yang pertama sekali yang dapat membuktikan keesaan Allah SWTsecara rasional dan menolak ketuhanan tuhan-tuhan yang lainnya secara rasional pula.

Untuk itu beliau pulalah yang diperintahkan Allah SWT untuk menyampaikan seruan panggilan menunaikan ibadah haji itu sesuia dengan firman Allah SWT : Dan serulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh (Q.S. Al-Hajj : 27).

Ibnu Abbas menyatakan bahwa setelah Nabi Ibrahim selesai membangun Ka'bah maka Allah berfirman kepadanya : Serulah manusia untuk pergi haji. Nabi Ibrahim agak ragu, apakah suara panggilannya akan didengarkan atau tidak. Ibrahim berkata : Wahai Tuhanku, bagaimana suaraku ini bisa sampai ? Kemudian Allah berfirman : Seru sajalah, Aku (Allah) yang akan menyampaikannya.

Kemudian naiklah Nabi Ibrahim ke Jabal Qubaisy dan menyeru : Wahai manusia ! sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadamu untuk berhaji di rumah Allah ini, agar Allah mengganjar kepadamu syurga dan melepaskan dari siksa neraka, maka berhajilah. Kemudian orang-orang menyahuti panggilan itu sembari membaca Talbiyah.

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali ‘Imraan [3]; ayat: 96-97)

Jadi…. Allah memanggil, kita dipanggil, tetapi hanya “sebagian” saja dari kita yang “terpanggil”. Itu semua tergantung respon kita setelah menerima panggilan.

Saya pikir kurang tepat apa yang kita lakukan ketika ada orang yang mau berangkat haji/umroh kita ngomong (titip pesan) “nanti nama saya di panggil / di sebut ya…..” karena sebenarnya bukan kapasitas manusia (jamaah) untuk melakukan panggilan ini.

Cukuplah kita minta didoakan saja sesuai apa yang kita harapkan karena sesungguhnya sebagai insan kita mesti saling mendoakan dalam kebaikan.

BELUM ADA PANGGILAN

Saya sebenarnya kurang setuju dengan penyebutan haji adalah “Panggilan Allah” atau dengan alasan “Belum Ada Panggilan”. Dengan penyebutan “panggilan Allah” itu kok kayaknya mengesankan bahwa Allah itu pilih kasih kepada hambanya. Lah apa itu berarti orang yang belum haji itu bukanlah orang pilihan? bukanlah orang-orang yang disukai Allah? Apakah Allah lebih memandang orang yang berhaji itu lebih mulia daripada mereka yang belum haji itu? Apakah Allah sama sekali ndak melihat niat dan usaha hambanya itu untuk bisa berangkat ke tanah suci?

Allah itu pasti suka kepada semua hamba yang beribadah kepadaNya, dan itu tidak terbatas hanya kepada ibadah haji saja. Allah pasti juga suka kepada mereka yang melaksanakan sholat, puasa dan ibadah lainnya, asal dengan satu syarat, bahwa semua itu dilakukan benar-benar niat karena Allah, bukan karena pamer atau niat lainnya.

Jadi istilah “Haji itu panggilan Allah” akan lebih tepat bila diganti dengan “Haji adalah atas izin Allah”.

KEINGINAN YANG KUAT

Yakinlah bahwa Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu tapi Allah memampukan orang-orang yang terpanggil.

Untuk bisa menjadi yang “terpanggil” niat saja tidak cukup. Harus dengan “niat dan keinginan yang kuat” yang dimanifestasikan dalam tindakan kita. Berdoa setiap waktu dan mengerahkan segenap tenaga dan usahanya untuk bisa pergi ke Baitullah. Keinginan yang kuat akan menuntun kita ke jalan menuju Baitullah. Kalo ternyata sampai menjelang ajal kita belum bisa merealisasikan niat dan keinginan kuat kita untuk mengunjungi Baitullah dengan berbagai alasan, kita masih ada peluang untuk berhaji yaitu anak cucu kita yang akan menghajikan.

BELUM SIAP

Jika kita lahir dan dibesarkan sebagai seorang muslim, bukankah kita sudah disiapkan sejak dini ? Bukankah rukun islam adalah syahadat, sholat, zakat, puasa ramadhan dan haji ? Jika Islam diibaratkan sebagai sebuah bangunan, maka Rukun Islam merupakan tiang-tiang penyangga utama bangunan itu. Bangunlah tiang-tiang itu dan mulailah dari yang paling bisa dan memungkinkan untuk dibangun. Sejak dini semestinya kita juga sudah harus siap-siap menyediakan material-material yang diperlukan untuk membangun tiang-tiang tersebut. Namun kenyataannya banyak yang sekedar atau bersungguh-sungguh membangun 4 tiang utama dan mengesampingkan 1 tiang utama itu.

ANTREAN HAJI PANJANG

Semua rangkaian ibadah Haji adalah mengandalkan fisik. Usia semakin tua semakin berat melaksanakan ibadah haji. Maka lebih afdol ibadah haji dilaksanakan selagi muda dan sehat sehingga bisa melaksanakan semua rukun, wajib dan sunnahnya berhaji.

Sudah menjadi sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa pada saat ini ibadah haji di negara Indonesia menjadi suatu ibadah yang sulit untuk dilaksanakan, hal ini dikarenakan adanya "waiting list" yang sangat banyak, sehingga masa tunggu untuk pemberangkatan haji menjadi sangat lama.

Kalo hari ini anda langsung ke Kantor Depag untuk Daftar Haji, saya pastikan bahwa anda punya kesempatan berangkat haji 15 tahun lagi. Ya… 15 tahun lagi. Bahkan ada wilyah yang daftar tunggunya sudah sampai 20 tahun lebih. Berapa umur anda sekarang ? Kalau tidak daftar haji sekarang mau berangkat kapan? Inilah yang menjadi renungan umat islam yang ada di Indonesia, sebab untuk mau pergi haji saja mesti antri 10-25 tahun lamanya bahkan bisa jadi bisa lebih lama lagi.

Panjangnya daftar tunggu haji ini menggambarkan tingginya minat masyarakat untuk bisa berangkat haji, hal ini bisa dimaklumi karena ibadah haji merupakan amalan yang paling utama dan memiliki keafdholan yang sangat besar. Menurut beberapa hadist yang pernah saya baca, selama orang yang melaksanakan haji itu tidak melakukan dosa syirik dan maksiat, maka tidak ada pahala yang lebih pantas bagi mereka selain mendapatkan surga. Allah juga pasti akan mengabulkan semua doa-doa yang dipanjatkan dan sekaligus pula mengampuni juga semua dosa-dosanya.

Hampir bisa dipastikan karena antrean panjang haji orang akan beralih ke Umroh (haji kecil). Orang yang Umroh akan meningkat tahun-tahun mendatang. Perkembangan ekonomi Indonesia yang relatif stabil meningkatkan jumlah kelas menengah "middle class" Muslim. Pada saat yang sama, memberikan peluang lebih besar bagi kelas bawah "lower class" untuk menabung guna membiayai perjalanan naik haji atau umrah. Karena itu pula, jumlah Muslimin-Muslimat yang berniat naik haji dan umrah juga bakal berlipat ganda., Bisa jadi nanti pergi umroh pun menjadi sulit dan harus masuk daftar "waiting list" karena visa umroh pun terbatas jumlahnya.

Demikian catatan saya semoga bisa jadi renungan dan bermanfaat bagi Anda sebagai calon jamaah Indonesia.

Uang bukan segalanya

Uang Bukan Segalanya, Tapi Segalanya rata-rata butuh uang. Ada yang bilang “uang bukan segalanya”, tapi realitanya “segalanya rata-rata butuh uang”. Ada juga yang bilang “uang gak bisa membeli waktu, kebahagiaan, cinta, dll” tapi realitanya “semua bisa dimaksimalkan dengan bantuan uang bahkan untuk mendapatkan waktu, kebahagian,cinta, dll”. Jadi, siapa bilang uang itu gak penting?

1. Waktu

Uang gak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, maka waktu 24 jam tersebut akan hilang dan ngga akan mungkin kembali lagi. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menyatakan perhatian dan kasih sayang kita kepada orang yang sangat kita sayang dan kita cintai, sebelum waktu itu berlalu dan kita menyesalinya. but the reality said..Memang uang gak bisa beli waktu. Namun kalo kita udah punya banyak uang, kita gak perlu kerja terlalu keras lagi, yang berarti kita punya banyak waktu untuk keluarga, untuk hobby, dan lain-lain. dengan uang kita bisa beli motor, mobil, naik pesawat, mau kemana2 gampang, cepat sampainya… kalo macet, bisa pake helikopter, dijamin anti macet. dan segalanya perlu uang.

2. Kebahagian

Memang kedengarannya aneh, Tetapi inilah kenyataannya. Uang memang bisa membuat kita merasa senang karena kita bisa membiayai liburan mewah, memberi laptop dengan fasilitas yang sangat modern, atau modifikasi mobil balap. Tapi uang gak bisa menghadirkan secercah kebahagiaan dari dalam lubuk hati kita. but thereality said.. Uang memang ngga bisa membuat kita bahagia, namun kalo kita banyak uang, kita gak perlu khawatir lagi besok mau makan apa, besok mau bayar uang sekolah/kuliah berapa duit, dan lain-lain. Dengan banyak uang, kita bisa bawa keluarga jalan-jalan ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Memberikan mereka liburan, melihat mereka bersenang2, tersenyum ceria, gak ada yangg lebih membahagiakan di dunia ini selain melihat senyuman dari orang yang kita cintai.

3. Kebahagiaan Anak

Untuk membelikan makan dan pakaian yang bagus – bagus untuk anak tercinta memang membutuhkan uang. Tapi kita ngga bisa menggunakan uang untuk memberi rasa aman, tanggung jawab, sikap yang baik serta kepandaian pada anak. Hal ini merupakan buah dari waktu dan perhatian yang kita curahkan untuk mereka dan hal– hal baik yang kita ajarkan. Uang memang membantu kita memenuhi aspek pengasuhan, tapi waktu telah membuktikan bahwa kebutuhan dasar tiap anak adalah berapa banyak waktu yang diberikan orangtuanya, bukan orangnya. but the realitysaid.. Memang, dengan uang ngga membuat anak bahagia, Tapi dengan uang kita bisa membelikan mainan yang bagus dan edukatif buat anak2 kita, kita mampu menyekolahkan anak kita di sekolah bermutu, mencarikan guru les yang handal, untuk mengajarinya supaya menjadi lebih pintar dan bertalenta. Yang pada akhirnya akan membahagiakan hidup anak kita di masa mendatang. Kita juga bisa mengajak anak kita ke taman bermain, keluar negeri, melihat keajaiban2 dunia, yang tentu saja akan menceriakan kehidupannya… Dengan banyak uang, kita ngga perlu kerja terlalu keras lagi,kita punya waktu untuk menceritakan dongeng kepada anak kita, kita punya waktu untuk bermain2 dengannya…. dan menceriakan hari2nya

4. Cinta

Cinta gak bisa dibeli dengan uang, akuilah hal ini benar. Memang dengan uang kita bisa membuat orang tertarik, tapi cinta berasal dari rasa saling menghargai, perhatian, berbagi pengalaman dan kesempatan untuk berkembang bersama. Itu sebabnya banyak pasangan yang menikah karena uang, tak bertahan lama. but the reality said.. dengan uang, memang kita gak bisa membeli cinta. namun dengan cinta saja, kita juga gak bisa menghidupi anak istri. buat beliin baju,bawa istri jalan2, menceriakan hidupnya, semuanya butuh uang… tanpa uang, kitagak bisa mempercantik/memperganteng diri kita. tanpa uang, gak bisa olah ragadi tempat fitness. tanpa uang, gak bisa pake baju keren. jadi kesimpulannya,cinta pun perlu uang mau ngapel dari Bekasi ke Jakarta pun perlu uang.

5. Penerimaan

Untuk diterima oleh lingkungan pergaulan, Kita tak butuh uang. Bila Kita inginditerima, fokuskan energi Kita untuk membuat diri Kita berharga bagi lingkungansekitar dengan menjadi teman dalam suka dan duka.

but the reality said..

sudah sangat jelas kata2 peribahasa.Ada uang Abang disayang, tak ada uang,abang melayang.

6. Kesehatan

Kita butuh uang untuk mengongkosi biaya perawatan dan membeli obat, tapi uangtak bisa menggantikan kesehatan yang hilang. Itu sebabnya pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati sebaiknya kita terapkan. Mulailah berolahraga, berhenti merokok, dan banyak hal lain yang pasti sudah kalian tau.

but the reality said..

memang benar uang ngga bisa membeli kesehatan.tapi kita juga tau, manusia ngga mungkin bisa selamanya sehat. kalo lagi demam, perlu uang untuk membeli panadol, kalo mendadak kena usus buntu, biaya operasi di rumah sakit bisa sampe belasan juta. kalo lagi jalan di jalan raya, mendadak menginjak lubang, kaki keseleo, perlu bayarin tukang urut atau dokter tulang.

semuanya perlu uang.

7. Kesuksesan

Beberapa orang memang ada yang mencapai kesuksesan dengan menyuap, tapi ini adalah pengecualian. Kesuksesan hanya berasal dari kerja keras, kemauan, dan sedikit kemujuran. Ada aspek kecil dari usaha menuju sukses yang bisa didapatkan dengan uang, misalnya mengikuti pelatihan atau membeli peralatan,tapi sukses lebih banyak berasal dari usaha yang Kita lakukan sendiri.

but the reality said..

Yap… benar banget kesuksesan berasal dari kerja keras kita, tapi semuanya pun perlu uang. mau sekolah, kuliah, semua perlu duit. kita ngga mungkin bisa jadiarsitek yang sukses, kalo gak punya duit buat kuliah arsitektur, apalagi biayakuliah di jakarta makin lama makin mahal. untuk bisa sukses, kita perlu kesehatan yang baik. dan untuk kesehatan yang baik, kita perlu makanan yang cukup dan bergizi. buat beli makanan bergizi pun kita perlu uang.buat sukses berdagang, kita perlu modal untuk mengawalinya.dan lain-lain.

8. Bakat

Kita dilahirkan dengan bakat tertentu. Dengan uang, yang bisa kita lakukan adalah mengasah bakat tersebut, misalnya belajar musik. Namun para ahli mengatakan, untuk menjadi ahli di bidangnya, kita membutuhkan bakat.

but the reality said..

sudah jelas, dengan uang kita bisa membayar orang untuk mengembangkan bakat kita. dari yang gak punya bakat pun bisa jadi berbakat. semuanya perlu pelatih yang tangguh. dan pelatih yang tangguh bayarannya mahal. bahkan kalopun mau otodidak, sengganya kita memerlukan modal untuk mengembangkan bakat kita. misal kita bakat main gitar, sengganya kita butuh uang untuk beli gitar, agar bakat kita bisa berkembang.

9. Sikap yang baik
Banyak orang yang kaya raya tapi sikapnya kasar dan ucapannya sinis. Tak sedikit orang sederhana yang tutur katanya sopan dan menunjukkan rasa hormat pada orang lain. Jadi, jumlah uang yang dimiliki bukan penentu sikap atau manner seseorang.

but the reality said..

orang2 yang ber-uang, biasanya berpendidikan tinggi. sekolah di sekolah yang mengajarkan budi pekerti, berakhlak, terbukti bahwa orang yang berpendidikan mempunyai sifat, tutur kata dan perbuatan yang lebih sopan dan terpuji. dengan banyak uang, kita bisa berbuat baik, menyumbang fakir miskin, menolong orangsakit, membangun masjid, pergi naik haji, dll.

10. Kedamaian

Bila uang bisa membeli kedamaian, barangkali kita tak lagi mendengar tentang perang. Justru yang sering terjadi sebaliknya, uanglah yang menjadi sumber pertikaian dan permusuhan.

but the reality said..

dengan punya uang banyak, kita justru bisa menciptakan perdamaian di dunia ini. karna salah satu sumber kejahatan adalah “kekurangan uang buat mempertahankanhidup”.

coba kita liat tukang copet, apakah dia semenjak kecil sudah bercita2 menjadi tukang copet? dia mencopet karna dia ngga tau mau kerja apa, karna dulu dia ngga punya uang untuk bersekolah, akhirnya terdamparlah dia jadi seorang pencopet. Kalau dia punya uang, akan menimbulkan kedamaian bukan?

Sedikit sebuah jawaban pertanyaan/pernyataan di atas

Siapa sih yang ndak mau uang? Sudah pasti semua orang yang masih"waras" membutuhkan yang namanya uang. Banyak di antara kita yang bekerja siang dan malam demi uang, bahkan anak kecilpun merengek - rengek mintauang untuk membeli jajanan. Kita tidak memungkiri bahwa kita membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun bukan berarti kita lantas menjadikan semua hal menjadi sumber penghasilan uang tanpa melihat apakah hal itu dilarang Allah atau tidak.

Banyak juga yang melakukan kezaliman kepada alam (merusak alam), menzalimi hak2 manusia lain, hanya untuk memuaskan keinginannya menyukseskan suatu proyek, yang ujung2nya juga uang. Ada juga orang yang tega mempermak sedemikian besar anggaran proyek pembangunan umum, agar banyak "saldo" yang masuk kantongnya. Ada juga yang tega memanfaatkan kekuasannya untuk "mengeruk" banyak uang dgn korupsi. Bahkan yang lebih parah ada orang tega membunuh orangtuanya, atau saudaranya, atau temannya, gara2 tidak dipenuhi keinginannya. Jadi, hati2lah dalam memikirkan masalahuang dan harta, karena bisa jadi itu menjadi hal yang kita ambisikan sampai mengalahkan ketaatan kita pada Allah.

Tanpa disadari atau tidak orang semacam itu bukan lagi takut dan taat kepadaAllah, mereka lambat laun sudah menyembah dan taat kepada uang. Diantarapenyebab tingginya tingkat kejahatan, seperti pencurian, perampokan, penipuandan berbagai perbuatan kriminal yang merugikan masyarakat disebabkan karenatingginya tingkat pengangguran yang juga juga berujung pada tingginya tingkatkemiskinan. Kemiskinan yang tanpa disertai ketabahan dan kesabaran apalagitanpa didasari oleh nilai-nilai keimanan dan moral yang baik, maka akanmemunculkan orang-orang yang memilih jalan pintas dan menghalalkan segala caradalam mencapai tujuan.

Diantara penyebab tingginya tingkat kejahatan, seperti pencurian, perampokan,penipuan dan berbagai perbuatan kriminal yang merugikan masyarakat disebabkankarena tingginya tingkat pengangguran yang juga juga berujung pada tingginyatingkat kemiskinan. Kemiskinan yang tanpa disertai ketabahan dan kesabaranapalagi tanpa didasari oleh nilai-nilai keimanan dan moral yang baik, maka akanmemunculkan orang-orang yang memilih jalan pintas dan menghalalkan segala caradalam mencapai tujuan.

“Carilah kebahagiaan hidup di akhirat itu dengan apa-apa yang dikaruniakan Tuhan kepadamu dan jangan lupakan porsimu dari kehidupan dunia.” (QS.Al-Qashash: 77).

Apabila kebutuhan dan uang kita sudah tercukupi, apakah ini menjamin kita bahagia ? Tidak ...!!! Ada sebagian orang yang bergelimang harta dan memanfaatkan uang nya untuk menindas yang lemah. Hak dan kedamaian orang yang membutuhkan uang justru dibeli. Kita semua sudah pernah melihat penindasan kepada kaum yang lemah, seperti penindasan negara barat di timur tengah. Sebagai Muslim alangkah indahnya jika kita memahami semua Hidayah yang Allah berikan kepada kita, bersyukur akan hidayah Nya merupakan benteng kita ketika kesulitan hidup sedang melanda kita.

Sebagai renungan kehidupan kita, janganlah kita menyalah gunakan uang sebagaialat untuk memperalat dan menindas kaum yang lemah, begitu pula janganlah kitamencari uang dengan jalan pintas. Uang bukanlah satu-satunya jaminan kita untuk hidup bahagia. Jangan sampai uang yang mengendalikan kita, yang akhirnya kita egois dan menyombongkan diri. Apalagi sampai memutuskan tali silaturrahmi terhadap saudara-saudara kita. ( Naudzubillah)

Selagi kita cukup, alangkah bijak jika kita membantu keluarga, saudara, sahabatdan anak yatim ( panti asuhan ) untuk bisa merasakan sedikit kebahagiaan. Tohdi akhirat nanti merekalah yang meringankan / memudahkan ketika kita di hisabdi yaumil qiyamah kelak. Amin.